Tes Diagnostik: Untuk mendiagnosis HIV, digunakan dua metode utama: serologis dan virologis.
-
Serologis: Tes ini mendeteksi antibodi dan antigen HIV. Tes cepat (rapid immunochromatography) dan Enzyme Immunoassay (EIA) adalah metode serologis yang paling sering digunakan. Tes cepat (rapid test) sering dilakukan karena kecepatan dan kemudahan prosedurnya.
-
Virologis: Digunakan untuk mendiagnosis pada bayi, infeksi HIV primer, atau kasus terminal. Tes ini mendeteksi DNA atau RNA HIV secara kuantitatif.
Metode Tes Cepat (Rapid Test):
-
Tes cepat HIV bekerja dengan mendeteksi antibodi HIV dalam darah atau cairan oral.
-
Rapid test dapat dilakukan dengan menggunakan darah tepi (fingerstick), darah vena, atau cairan oral (saliva).
-
Tes cepat digunakan sebagai tes awal yang harus diikuti oleh konfirmasi tes lainnya jika hasilnya positif.
Strategi Tes yang Direkomendasikan:
-
Untuk diagnosis definitif HIV pada dewasa dan anak >18 bulan, dilakukan dengan tiga jenis tes serologis dengan tiga reagen atau metode berbeda untuk memperoleh hasil reaktif. Jika hasil pertama reaktif, pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk mengkonfirmasi status HIV.
-
Hasil tes yang positif harus diuji kembali dengan menggunakan tes virologis atau tes serologis lainnya untuk memastikan diagnosis.
-
Pada kondisi tertentu, seperti pada bayi yang berisiko tinggi, tes PCR DNA atau RNA HIV dilakukan untuk diagnosis yang lebih akurat.
Prinsip Pengujian:
-
Pengujian dilakukan dengan prinsip 5C: informed consent, confidentiality, counseling, correct test results, dan connection to care, treatment, and prevention services. Ini bertujuan untuk memastikan hasil yang tepat dan untuk memulai terapi atau dukungan yang diperlukan secepatnya .